Assalaamu’alaikum
warahmatullaahi wabarakaatuh.
Hello
teman-teman, sudah lama sekali ya Pena tidak mampir ke sini. Bukan lupa, tapi
ingin menepi dari hiruk-pikuk media yang banyak dihantui informasi abu-abu.
Sebenarnya
Pena bingung mau nulis apa, coba kita berbincang ringan aja yuk!
Pena
mau berbagi soal “Mudik”. Pertama dan yang utama, mari panjatkan syukur bagi
yang diberi izin mudik oleh Allah, semoga juga diridha-i Nya ya. Ceritanya
cukup panjang asal musabab kenapa Pena mudik ke kampung halaman. Pena adalah
perantau asal Tegal-Pemalang. Ya, desa Senggang-Kreyo. Pena mau apresiasi kedua
desa ini, dengan komposisi penduduk yang sangat menentramkan rehat dua pekannya
Pena dari riuhnya ibukota.
Ya,
Pena pulang karena nenek Pena sakit keras. Eits, bukan nenek yang ada di
postingan tentang “Kematian” lho ya, tapi nenek dari bapakku. Sangat amat
mendadak tiket mudik sudah di tangan Pena, berapa banyak janji pertemuan reuni,
bukber, millad, dan temu kangen lainnya yang harus Pena batalkan, demi bisa
bersuka cita bersama nenek dan keluarga di jawa. Singkat cerita Pena telah
sampai di Rumah Sakit Swasta di Pemalang, jam 02.00 pagi. Pena langsung mencari
tempat shalat, kenapa tidak langsung menubruk ranjang nenek dan terisak di
pembaringannya? Tidak, sebab penjengukan sudah diatur oleh rumah sakit, Pena
menghabiskan waktu di mushalla saja sembari menikmati malam Ramadhan pertamaku
di kampung dan tiada hentinya memanjatkan ribuan paket doa.
Selepas
subuh Pena ikut bapak membesuk nenek, airmata pecah dan melumuri pipi kami
berdua. Kala itu dan sampai sekarang aku masih terus mengingatnya, “Nek, jangan pernah tinggalkan shalat! Aku
sayang nenek.” Begitu pesanku padanya.
Oiya,
selepas menjenguk aku pulang ke rumah keluarga bapak, kemudian beberapa hari
setelahnya aku ke kampung mama di Tegal. Hmm, setelah itu aku ditinggal bapak,
mama, dan adik ke Jakarta lagi. Aku sendirian mentadabburi alam lewat pesona
Senggang. Tepat sehari setelahnya, jumat berkah, dengan duka. Aku dapat kabar
peringatan dari Allah bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan mati, itu
pasti.
Sesak
dipisah jarak itu seperti apa ya? Aku mencoba menghubungi keluarga bapak, tapi
sulit. Aku panik, tidak bisa beranjak ke rumah duka. Alhamdulillah ada yang
bersedia, aku diantarkan menuju hunian yang jelas akan penuh isak, selama
perjalanan ke sana aku kalut. Angin yang menerpa wajah seperti membenciku. Fyi,
perjalanan hari itu ditempuh 1 jam dengan dingin yang menusuk lho padahal siang
hari, sebab aku melalui pegunungan yang terbelah desa-desa ditambah kecepatan
kendaraan yang menembus berkilo-kilo meter tanpa ampun.
Tiba
dengan ketiadaan, ya aku sampai dan semuanya sepi. Tidak pernah ada klimaks
dari cerita mudikku. Pernah menjadi bagian dari perjalanan asaku, mana mungkin
akan dilupa. Apalagi pesan sebelum ending yang sampai kini juga menjadi
boomerang buatku.
Setelah
dukanya pergi dengan kenang yang tak pernah berlalu, aku kembali ke kampung
mama. Di sini aku bertemu teman semasa kecil dengan perubahannya yang
mencengangkan, juga aku dikelilingi oleh adik-adik, biasa kusebut pasukan
mungil. Aku bercerita banyak pada mereka, tentang pergolakan kehidupan yang tak
satu pun manusia bisa menerka dengan tepat. Perihal untuk apa kamu hidup,
bagaimana menghabiskan hidup, akan seperti apa akhir hidup. Kita manusia hanya
bisa berupaya dengan mengharap ridho dan berkah Allah, serta jangan bosan
berdoa, habis itu berserahlah! Sederhana bukan? tapi kita tidak berkomptesi
sendirian, kalau begitu kita akan jelas menang telak. Berkompetisi dengan
godaan setan, nafsu, ego, dan banyak lagi. Itu yang membuat sirkuit kehidupan
tidak seperti kasur busa yang empuk, aspal di bawah terik nan panas juga kasar
tak karuan jadi tantangan perjalanan.
Hiks,
jadi ingat berapa kali Pena kalah kompetisi.
Ya,
kemudian pena habiskan pekan demi pekan di kampung untuk mengevaluasi
perjalanan, tadabbur alam, dan mencoba mengikhlaskan banyak hal.
Sejujurnya
banyak yang masih ingin ditulis, tapi kita sudahi dulu ya! Terimakasih masih
mempersilakan Pena melanglangbuana di sini, see you.
Wassalaamu’alaikum.


0 komentar:
Posting Komentar