Kisah Mudik

by 21.46 0 komentar

Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Hello teman-teman, sudah lama sekali ya Pena tidak mampir ke sini. Bukan lupa, tapi ingin menepi dari hiruk-pikuk media yang banyak dihantui informasi abu-abu.

Sebenarnya Pena bingung mau nulis apa, coba kita berbincang ringan aja yuk!

Pena mau berbagi soal “Mudik”. Pertama dan yang utama, mari panjatkan syukur bagi yang diberi izin mudik oleh Allah, semoga juga diridha-i Nya ya. Ceritanya cukup panjang asal musabab kenapa Pena mudik ke kampung halaman. Pena adalah perantau asal Tegal-Pemalang. Ya, desa Senggang-Kreyo. Pena mau apresiasi kedua desa ini, dengan komposisi penduduk yang sangat menentramkan rehat dua pekannya Pena dari riuhnya ibukota.

Ya, Pena pulang karena nenek Pena sakit keras. Eits, bukan nenek yang ada di postingan tentang “Kematian” lho ya, tapi nenek dari bapakku. Sangat amat mendadak tiket mudik sudah di tangan Pena, berapa banyak janji pertemuan reuni, bukber, millad, dan temu kangen lainnya yang harus Pena batalkan, demi bisa bersuka cita bersama nenek dan keluarga di jawa. Singkat cerita Pena telah sampai di Rumah Sakit Swasta di Pemalang, jam 02.00 pagi. Pena langsung mencari tempat shalat, kenapa tidak langsung menubruk ranjang nenek dan terisak di pembaringannya? Tidak, sebab penjengukan sudah diatur oleh rumah sakit, Pena menghabiskan waktu di mushalla saja sembari menikmati malam Ramadhan pertamaku di kampung dan tiada hentinya memanjatkan ribuan paket doa.

Selepas subuh Pena ikut bapak membesuk nenek, airmata pecah dan melumuri pipi kami berdua. Kala itu dan sampai sekarang aku masih terus mengingatnya, “Nek, jangan pernah tinggalkan shalat! Aku sayang nenek.” Begitu pesanku padanya.

Oiya, selepas menjenguk aku pulang ke rumah keluarga bapak, kemudian beberapa hari setelahnya aku ke kampung mama di Tegal. Hmm, setelah itu aku ditinggal bapak, mama, dan adik ke Jakarta lagi. Aku sendirian mentadabburi alam lewat pesona Senggang. Tepat sehari setelahnya, jumat berkah, dengan duka. Aku dapat kabar peringatan dari Allah bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan mati, itu pasti.

Sesak dipisah jarak itu seperti apa ya? Aku mencoba menghubungi keluarga bapak, tapi sulit. Aku panik, tidak bisa beranjak ke rumah duka. Alhamdulillah ada yang bersedia, aku diantarkan menuju hunian yang jelas akan penuh isak, selama perjalanan ke sana aku kalut. Angin yang menerpa wajah seperti membenciku. Fyi, perjalanan hari itu ditempuh 1 jam dengan dingin yang menusuk lho padahal siang hari, sebab aku melalui pegunungan yang terbelah desa-desa ditambah kecepatan kendaraan yang menembus berkilo-kilo meter tanpa ampun.

Tiba dengan ketiadaan, ya aku sampai dan semuanya sepi. Tidak pernah ada klimaks dari cerita mudikku. Pernah menjadi bagian dari perjalanan asaku, mana mungkin akan dilupa. Apalagi pesan sebelum ending yang sampai kini juga menjadi boomerang buatku.

Setelah dukanya pergi dengan kenang yang tak pernah berlalu, aku kembali ke kampung mama. Di sini aku bertemu teman semasa kecil dengan perubahannya yang mencengangkan, juga aku dikelilingi oleh adik-adik, biasa kusebut pasukan mungil. Aku bercerita banyak pada mereka, tentang pergolakan kehidupan yang tak satu pun manusia bisa menerka dengan tepat. Perihal untuk apa kamu hidup, bagaimana menghabiskan hidup, akan seperti apa akhir hidup. Kita manusia hanya bisa berupaya dengan mengharap ridho dan berkah Allah, serta jangan bosan berdoa, habis itu berserahlah! Sederhana bukan? tapi kita tidak berkomptesi sendirian, kalau begitu kita akan jelas menang telak. Berkompetisi dengan godaan setan, nafsu, ego, dan banyak lagi. Itu yang membuat sirkuit kehidupan tidak seperti kasur busa yang empuk, aspal di bawah terik nan panas juga kasar tak karuan jadi  tantangan perjalanan.

Hiks, jadi ingat berapa kali Pena kalah kompetisi.

Ya, kemudian pena habiskan pekan demi pekan di kampung untuk mengevaluasi perjalanan, tadabbur alam, dan mencoba mengikhlaskan banyak hal.

Sejujurnya banyak yang masih ingin ditulis, tapi kita sudahi dulu ya! Terimakasih masih mempersilakan Pena melanglangbuana di sini, see you.

Wassalaamu’alaikum.


Unknown

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 komentar:

Posting Komentar