Assalaamu’alaikum
warahmatullaahi wabarakaatuh.
Jika ini adalah tulisan terakhirku…
Selamat
sore temans, beberapa waktu lalu pena menghadapi yang namanya ‘kegalauan’. Tiba-tiba nangis, tiba-tiba
murung, tiba-tiba sedih, semuanya serba tiba-tiba. Pena kira hal itu adalah
sesuatu yang tak berarti, tapi ternyata pena sadar itu semua bukan tanpa sebab.
Allah sedang rindu dengan pena, tapi pena acuh dan malah rindu yang lain, hmm.
Lalu
dalam beberapa hari terakhir ini juga banyak pena kutip kabar-kabar yang
membuat biru suasana, “Pengumuman SBMPTN 2018” semuanya bertemu garis start yang baru, ada yang mulai untuk
daftar ulang, ada juga yang harus mulai move
on dan menyusun rute baru. Semua rasa beradu dalam satu waktu.
Tapi
bukan itu fokus pena, karena bagaimanapun kunci dari segala yang didamba adalah
‘SEMANGAT’. Ya, semangat berdoa, semangat berikhtiar, dan semangat untuk terus
memperluas kelapangan hati.
“Pen,
enak banget sih lu ngomong. Ngerasain juga enggak kan?” Hmm, terimakasih
tohokannya, tapi jelas semua sudah ada porsinya. Pena pernah tenggelam dalam
telaga keperihan, ya pernah. Kita tidak mungkin sulit sendirian dan Allah uji
sesuai dengan kemampuan, kalau terus merisaukan kebahagiaan orang lain, kapan
kita bisa bahagia?
Selalu
tanamkan keyakinan kepada Allah, saat dahulu diajarkan beriman kita diajarkan
untuk yakin pada Allah, maka yakinlah “mengusahakan yang terbaik maka siapkan
diri pula untuk memanen yang terbaik. “ dan jangan lupa untuk saling membantu
dan menguatkan sesama jua, itu wajib.
By The
Way …
Masih
satu topik beda sub aja sih,
Jumat
lalu, hanya selisih lima jumat dengan nenek pena, saudara pena jua berpulang.
Baru beberapa waktu pena ditegur Allah “Setiap
yang bernyawa pasti akan mati.” Lalu pena ditegur lagi, “Semua yang ada di bumi pasti akan binasa.”
Selain duka karena sanak family tiada, duka terdalam adalah jika tiba
saatku bagaimana ya? Bagaimana kabar bekal akhirat ya?
Ternyata
kegalauan yang tadi pena ceritakan di paragraf awal itu adalah karena Allah
rindu.
Teman,
perihal ribuan rasi mimpi yang kita susun. Boleh saja susun sematang dan
secermat mungkin, serapi dan semenawan mungkin, sehebat dan semenggairahkan
mungkin, ya semua mimpimu kamu berhak tentukan. Angan manusia memang menembus
limitasi, namun tidak dengan manusianya. Karena usia kita tidak bisa menembus
batas-batas kodrat.
Maka
untuk kegagalan-kegagalan yang lalu, biarlah jadikan itu sebagai pengingat
sembari terus menerus mengevaluasi, karena yang terpenting dari segala upaya
tadi juga adalah ridho Allah. Allah ridho tidak ya jika kita menginginkan
sesuatu namun rawan untuk disombongkan, percayalah selalu ada hikmah di balik
kalah
dan selalu
ada medal di balik gagal.
Terus
bersemangat, dan mengupayakan yang terbaik versi kita. Agar nantinya jika tiba
di ujung masa, kenang pula akhir yang terbaik.
SEMANGAT
LILLAAHI TA’ALA!!!
Wassalaamu’alaikum.
